Saturday, July 16, 2011

Aky 22'9 (part 1)


Jalan hidup tak pernah kita tahu
entah siapa, entah kapan, entah mengapa
sepercik cinta, tak akan berakhir dalam ingatan
meski ekspresi selalu bertentang

Ini bukan tentang mengapa aku menulis, dan juga bukan tentang mengapa aku berfikir ..
Hanya untuk mengenang masa lalu yang terlalu sulit tuk dilupakan ....



Untuk mu...
Ayu Febriandani Sekar Pertiwi


 Tes

Pagi masih merayap perlahan. Suara kokok ayam bergantian menyahut. Dingin pagi yang mencekik juga mewarnai pagi itu. Matahari masih malu menampakkan sinarnya. Pukul 5.00.

Ahhh.... sayup - sayup kudengar ibuku memenggilku. Segera saja ku bangun, karena suara ibuku adalah alarm biologisku sejak aku kecil dulu. Kusabet handuk dan peralatan mandi. Lalu, byuuurrrrrrr...... aku tercekik dinginnya air kran....

"ayo ndangan.... ndang sembahyang.... wes jam piro iki........"

Yayaya
Tiap hari, di jam yang sama, selalu kalimat itu yang ku dengar.

Setelah semua selesai, Siaplah aku menyongsong hari itu. Hari dimana aku akan menggoreskan sejarah baru. ya, sejarah baru.

Tes. Itu hal baru bagiku. Aku akan menjalani tes SPSB SMP. Maklum, saat itu aku tek pernah yang namanya melakukan tes. Saat aku masuk SD saja, hanya berbekal uang dan fisik saja aku masuknya. Mungkin pada saat itu SD-ku kekurangan murid. Wallahu Alam.

Faisal, teman sebayaku sekaligus tetangga depan rumah sudah siap menantiku. Sebenarnya dia kakak kelasku. IQ yang rendah membuatnya tidak naik kelas saat di bangku kelas 4 SD. Namun karena tubuhnya tidak lebih tinggi dariku, kuanggap saja dia teman sebayaku. Toh sekarang kita pada tingkat yang sama.

Lokasi Tes tidak terlalu jauh. Kurang lebih 2,5 km saja dari rumahku. SMP Negeri 9 Jember. Itu namanya. Menurut statistik yang tak jelas sumbernya menyatakan behwa SMP itu tak jau beda dengan SMP pinggiran. Aku tak peduli dengan hal itu. Karena dimanapun tempatnya, aku akan menjalani, Tes.

Aku dan Faisal naik sepeda ontel saja menuju kesana. Jalan rusak, Sawah di kiri kanan jalan, siswa lai yang mengikuti tes, semakin mewarnai dan menambah semangatku. Ahhh.. Tes.. Sungguh kata yang berkelas.

Tak lebih dari 5 menit setelah aku duduk di bangkuku, Bel tanda tes dimulai berbunyi. Seluruh peserta dalam ruanganku terlihat gugup. Termasuk aku. Mungkin barangkali mengalami nasib yang sama denganku. Pertama kalinya tes.

Tak bisa ku bayangkan bagaimana ekspresi wajah Faisal sekarang. Anak Sopir teman ayahku itu pasti kikuk menghadapi situasi sekarang ini.

***

"Aku berani bertaruh, kalau aku tahu bisa tahu namanya, aku traktir kau"
"OK deal"

Gila, temanku yang satu itu gampang sekali bertaruh. Setahuku, itu hanya untuk menunjukkan ketidak mampuannya memenuhi perkataanya. Tapi sudahlah, itu bisa kujadikan surplus buatku. Lumayan, bakso semangkuk.

Tahukah kau apa yang ia taruhkan kawan? Cuma nama. Memang sih menurutku bukan sembarang nama. Nama seorang gadis. Ah, gadis, madu boy.
Secara persepsiku, gadis yang kami perdebatkan itu cantik, proporsional, putih, dan yang paling aku suka, rambutnya bergelombang (bukan keriting). Kami (aku dan Faisal) melihatnya istimewa. Menonjol dari peserta lain yang seliweran saat itu. Sosoknya yang anggun dan pendiam menambah kesan manis terhadapnya.

Memang susah kalau sudah bicara tentang wanita. Semua jadi indah. Untuk orang yang amatir tentang gadis, terlalu tinggi untuk mendapatkannya. Memikirkan saja sudah terlalu pening. Entah menhapa, itu saat pertama kali aku merasakan cinta.

Dia tahu aku memperhatikannya. Kualihkan pandangan saat ia melirikku. Segera aku pergi dari tempatku saat itu, walau sebenarnya aku tak ingin berhenti melihatnya.......

(to be continued)

No comments:

Post a Comment